Wijaya Kusumah, M.Pd

Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd, Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1972. Menyelesaikan pendidikan S1 di IKIP Jakarta pada Jurusan Teknik Elektro (1990-1994). Telah menyel...

Selengkapnya

Merangkai Kata, Menggenggam Buku Oleh Heronimus Bani

Merangkai Kata Menggenggam Buku

Sekedar Kata Awal

Saya baru saja mendapat seuntai pesan melalui aplikasi WhatsApp, “mohon kiranya bapak bisa berbagi dengan kawan-kawan lainnya di wa group ttg pengalaman menulis dan menerbitkan buku.”

Kalimat pendek itu menggugah emosi ini untuk mencoba. Apakah saya mampu berbagi pengalaman ini berhubung saya belum seberapa baiknya menjadi seorang penulis. Tapi, baiklah saya mencobanya, mungkin ada yang sudi mengikutinya.

Merangkai Kata

Sekali lagi, sesungguhnya saya belum seberapa baiknya dalam menulis. Tapi saya mencoba dan mencoba. Bila menulis secara runut pada satu topik yang dibedah menjadi beberapa sub topik agar menjadi makin rinci uraiannya, sejujurnya, saya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Sebutlah sebagai pemisalan, menjadi guru professional di abad ini. Topik seperti ini menarik untuk dibahas dalam beberap sub topik yang kiranya akan menghasilkan satu tulisan. Apakah saya mampu menganalisisnya dan menjadikannya tulisan bernas? Itu pekerjaan yang tak mampu saya tunaikan. Tetapi, bila saya mengurainya dalam satu tulisan pendek berupa esai, besar kemungkinan hal itu dapat terwujud.

Itulah sebabnya, saya mesti jujur pada pembaca, bahwa saya terbatas pula pada ketrampilan menulis. Walau demikian, saya terus berusaha dan berusaha. Saya tidak pernah berhenti menulis sepanjang ada ide di kepala ini. Sekecil apapun ide itu akan saya tulis. Semua yang saya tulis tidak berkait satu dengan yang lainnya. Saya dapat saja menulis puisi pada satu kesempatan X, dan di kesempatan berikutnya saya menulis esai.

Mengapa saya terus menulis walau untuk dua tulisan saja tidak saling berhubungan topiknya? Karena menulis itu selalu saya rasakan sebagai sesuatu yang nikmat. Menikmati yang nikmat seperti itu, hanya dapat dilakukan bila memiliki perbendaharaan kata yang kiranya boleh dinyatakan di sini sebagai lebih dari cukup. Memulai kegiatan atau kebiasaan menulis dengan tidak mempunyai perbendaharaan kata yang cukup, bukan tidak boleh sama sekali, tetapi, patut diingat, jangan mimpikan tulisan itu akan melejit secepat kilat naik.

Setiap orang yang rindu menulis, mesti menjadi seorang yang rindu pada kegiatan membaca. Membaca baginya bukan suatu kewajiban atau mungkin menyebutkannya sebagai hobi/kegemaran belaka. Membaca bagi seorang penulis mesti dipahami sebagai suatu kebutuhan. Membaca sebagai kebutuhan itu, mesti dapat dianalogikan sebagai makanan yang diperlukan tubuh setiap hari. Tubuh yang dibangun dengan makanan bernutrisi dan bergizi seimbang, akan terbangun baik, sehat dan imun terhadap panyakit. Demikian jugalah dengan membaca. Membaca itu menutrisi area otak, benak dan emotion agar terbangun dorongan menyajikan dalam wujud oral, yang lisan, dan akan lebih baik lagi yang oral dialihkan ke dalam wujud tertulis yang lebih parmanen.

Dalam masa-masa menulis, mungkin anda merasa jenuh karena tulisan-tulisan tidak dibaca orang, atau dibaca tanpa komentar. Biarkan. Anda sendiri perlu membaca kembali apa yang anda tulis. Anda perlu untuk “menampar” diri sendiri pada tulisan yang sedang dibuat.

Akh…

Baiknya saya berhenti menggurui.

Menggenggam Buku

Apakah mudah menerbitkan buku? Bagaimana mungkin tulisan-tulisan saya dapat dibukukan? Siapa yang mau menolong saya? Dan mungkin ada sejumlah tanya berbarengan ketika seseorang penulis berpikir menerbitkan buku.

Nah, saya urai secara singkat saja pengalaman saya.

Saya menulis di koran local, juga blo pribadai atau media daring yang dibangun sebagai portal berita, atau blog keroyokan seperti agupena dan gurusiana. Tulisan-tulisan itu dihimpun kembali kemudian, mula-mula saya ulang. Saya koreksi sendiri lalu mencoba menghubungi penerbit (ini contoh TKPnya di Kota Kupang). Ketika berada di Penerbit, proses yang dilakukan adalah, menyediakan tenaga editor (bila belum ada editing), dan setting buku (typesite), seting cover dan mengurus ISBN Sebagai yang menulis buku, ada kewajiban menyetor sejumlah uang yang dimintakan penerbit. Bila penerbit mempunyai percetakan sendiri, akan diarahkan untuk mencetak buku sesuai ketentuan yang dibuat oleh penerbit. Ada penerbit yang mencetak minimal 5 eksemplar. Ini terjadi di luar Kota Kupang (pengalalam bersama ibu Sri Sugiastuti). Penerbit dan percetakan di kota Kupang tidak bersedia mencetak dengan jumlah amat sangat terbatas seperti itu, hanya 5 eksemplar. Penerbit di Kota Kupang yang pernah saya gunakan jasanya, mau mencetak buku, minimal 100 eksemplar. Mereka tidak membeli hak cipta, tetapi membantu menguruskan ISBN. Pemasaran buku dilakukan oleh penulis sendiri.

Saya hentikan di sini. Bila ada pertanyaan akan saya coba jawab. Bila tidak mungkin untuk sempat menjawab, saya pastikan di grup ini ada sejumlah pakar yang lebih berpengalaman akan memberi jawabannya.

Terima kasih.

Heronimus Bani

Koro’oto-Pah Amarasi, 16 Maret 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post